ADAB LEBIH UTAMA DARI ILMU

Belajar dan berguru itu jauh beda..
Kenapa?

Salam Senafas,

Penulis sangat berterimakasih kpd seorang sahabat yg mengajari ini puluhan tahun lalu. Sekarang beliau sudah guru mursyid tradisi sufi, juga pengusaha yg tajir.

Puluhan tahun lalu beliau jauh jauh dari sebrang pulau menemui yg nulis ini, juga guru guru penulis.
Rupanya dateng dan menyampaikan adab berguru. Selebihnya sangat hormat, bahkan hati dijaga utk selalu hormat.

Penulis bertanya kenapa kenapa dateng ke guru yg nulis juga. Katanya, utk berguru dan minta izin kenapa bisa jadi guru?

Penulis mempelajari rahasia ini, dan coba diterapkan di bidang apapun.
Semisal, ke kyai ilmu rasa, penulis menyampaikan niat berguru rasa, dan selebihnya hormat lahir batin, dan kirim donasi setiap majelisnya bikin acara. Entah kenapa sejak itu penulis mulai hidup rasa nya. Dan ngeh, padahal gak belajar latihan khusus. Seperti duplikasi.

Penulis terapkan dan berguru ke orang yg punya kelebihan melihat apa yg akan terjadi (visioner)
Dan orang yg bisa membaca pikiran, apa yg terjadi. Dan terduplikasi.

Akhirnya semua tradisi sufistik, hikmah, hingga ilmu sales penjualan, jadi pengusaha kontraktor, ilmu psikologi, ilmu mesin diesel, property, hingga orang yg punya kemampuan khusus semisal menerawang, teleportasi barang dll.

Penulis membuktikan ilmu itu terduplikasi baik, tertransfer bila ada sambung rasa.

Rasa itu batin bawah sadar. Ada koneksi antara yg belajar dengan gurunya. Ini bisa terjadi karena kita menyampaikan kesungguhan kita utk berguru, lalu total menghormati lahir batin sang guru itu. Sering kirim doa, donasi, bantuan utk kegiatannya. Ada majelis, acara rutin, dstnya.

Penulis gak belajar khusus, disamping yg nulis ini hobinya cengengesan, gak pernah serius belajar, banyak bejandanya. Namun SAMBUNG RASA dijaga. Inilah yg kemudian banyak gak nalar, penulis kecipratan ilmu si guru itu, dan terduplikasi. Sementara yg belajar belasan tahun kok tidak terduplikasi. Rupanya mulutnya bilang belajar, nganggep orang yg ngajari itu gurunya, namun RASA, BATIN itu tidak ada hormat, sambung rasa. Kerap buruk sangka, jelekkan si guru.

Penulis menyaksikan sendiri hingga kasus berat seseorang itu tiba tiba hilang sendiri. Tatkala orang itu menghadap seorang guru, niat berguru, dan penghormatan lahir batin. Entah kenapa problem beratnya seperti terurai, dan move on. Padahal gak diapa apakan
Rupanya, sambung rasa antara dia dan gurunya, membuat bagian Quantum gurunya itu melompat, menyeimbangkan energi, partikel nya.

Penulis juga banyak mereview para alumni. Penulis ketika berbicara di forum, terasa sekali mana yg rasa nya nyambung dan mana tidak.
Yg rasa nya nyambung inilah yg spontan ngalami pencerahan, hingga kasus sakit akut, ilusi, sihir, finansial itu hilang sendiri. Dan muncul seperti terduplikasi. Aktif di group WA, memberi sharing dan ngajari yg lain. Belajar sama, namun beda duplikasi dan efek.

Dari pelajaran ini kita bisa duplikasi ilmu apapun yg sangat luas di jagat ini. Bahkan di dunia politik pun ternyata yg sukses menjabat rupanya pernah berguru ke tokoh sebelumnya. Bahkan jadi ajudan, tukang ngangkat koper. Ngalap berkah istilah orang jawa.

Bergurulah bidang apapun yg ditekuni ke orang orang yg income besar, rumahtangga bahagia ayem, orang yg sukses di bidang politik, ussha, bisnis, jualan, internet marketing dan seterusnya. Sampaikan niat berguru bidang itu, hormati lahir batin, sambungkan rasa nya. Munculkan perilaku yg bikin sambung rasa setiap saat.
Itu kecipratan, terduplikasi dg sendirinya.

Sekali lagi, bukan bilang berguru di sms, di mulut namun cuma di mulut. Hatinya jelek, gak ada rasa. Tidak ada attention, perhatian sama sekali. Tidak ada hormat, adab.

Adab itulah yg bikin terduplikasinya sebuah ilmu. Orang dulu bilang ADAB lebih UTAMA dari ilmu. Dengan adab itulah terbangun SAMBUNG RASA. dan terhubungnya rasa, terjadilah transfer ilmu, lompatan keajaiban, berkahnya dapet.

Ajarkan ke anak anaknya di sekolah utk menyampaikan ke gurunya.
Misal, pak/bu, saya mohon izin berguru matematika atau fisika, atau bahasa inggris ke bpk/ibu, dan cium tangannya.
Adab ini akan sambung rasa.
Dan selebihnya ajarkan anak menghormati gurunya baik lisan maupun hati.

Anak anak berprestasi umumnya adab nya belajar lebih tinggi dan dekat dengan guru gurunya.

Adab itu bagian dari awareness, naiknya level kesadaran.

Salam Rahayu
Mas Kris

Be Sociable, Share!

2 Responses to ADAB LEBIH UTAMA DARI ILMU

  1. Heri Permana says:

    salam rahayu mas kris,apa yang ditulis kena buanget rasa nya.
    sekarang saya nyadar,ternyata itu blocking yang menghalangi.
    pasti akan saya buang.

    terimakasih..

  2. Georgecaw says:

    Hei?e Frauen fur Sex in deiner Stadt: https://tinyurl.com/bestsexygirlsinyourcity50873

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.