Yuk belajar memaknai hidup….belajar ikhlas dan pasrah pada mauNYA

Sahabat yang tercerahkan,

Hidup adalah kemauan Tuhan (Allah SWT) pada diri manusia. Satu sisi manusia yang berjasad, berpikiran, berjiwa, dan hatinya menggerakkan alam semesta dengan vibrasinya. Sisi lain, terpercik God partikel (ruhNya), yang tiada, gak ada apa apa namun menggerakkan sisi manusia yang memiliki atom, partikel, quark dan energi.

Dua sisi yang unik, yaitu sisi manusia dan satunya lagi percikan cahayaNYA.

KehendakNYA lah diturunkan ke dunia ini untuk bermain, menjalani takdir dan ketetapanNYA. Datang tidak membawa apa-apa dan kelak kembali pun tidak membawa apa-apa. Jadi apa tujuanmu hidup? Untuk menumpuk harta, kesuksesan, kekayaan, toh gak dibawa apa apa. Gak ada yang dibawa sama sekali.

Hidup layaknya sebuah perjalanan, journey dari jiwa, pemikiran dan tubuh ini.

Perjalanan yang tidak pernah seorangpun tahu selesainya kapan, dan kemana tujuannya.

Perjalanan seperti mengendarai kendaraan yang berasal dariNYA (sang hidup dalam tubuh ini).

Ada yang terlahir sebagai etnis A, B, C dan sebagainya. Di negara A, B, C dan seterusnya. Dari sebuah keluarga yang tidak pernah diinginkannya. Dengan bentuk yang juga tidak pernah diinginkan oleh manusia. Apakah manusia pernah bisa memilih?

Sudah jelas, semua adalah kemauanNYA.

Perjalanan menaiki kendaraan yang terus berjalan dari satu pemadangan ke pemandangan lainnya, dari situasi kejadian ke situasi berikutnya. Detik demi detik, menit, jam, hari, bulan, tahun berlalu…..apakah pernah kembali? Semua berjalan mengalir…

Perjalanan yang indah melihat pemandangan satu, dan terus ke pemandangan berikutnya.

Apa yang terjadi jika, dalam perjalanan terhenti karena suatu pemandangan. Terhenti karena kita masih “melekat” dengan pemandangan sebelumnya. Maka perjalananpun berhenti, mandek disitu.

Inilah ibarat seseorang yang sedang diuji dengan pemandangan “kurang bagus”, namun belum bisa menerimanya dan terus berkutat dengan ujian ataupun pemandangan sebelumnya. Akhirnya perjalananpun terhenti, dan mandek dengan pemandangan “tidak bagus” itu.

Bisa jadi itulah pemandangan yang membuat kita menderita karena ditipu orang, dibangkrutkan, dibuat sakit hati, diuji “rumah tangga”, diuji oleh lawan jenis yang kabur meninggalkannya, atau jomblo sendirian meratapi kejombloannya, dan bejibun ujian pemandangan “gak bagus”.

Kenapa dirimu mesti berhenti dari perjalanan, mandek, berhenti dengan pemandangan itu.

Ingat kehidupan itu mesti berputar… sebagaimana bumi pun berotasi, angin pun tetap berhembus, matahari terus bekerja, dan semuanya bekerja, berotasi, berputar pada porosnya.

Apa yang terjadi jika bumi ini tidak berputar, maka kacaulah sistem tatasurya, alam semesta.

Itulah dirimu bila berhenti pada ujian pemandangan “kurang bagus”, meratapi nasibnya, meratapi pemandangan itu.

Alam semesta pun berantakan kinerjanya dan berimbas kepada kehidupanmu pun berantakan jadinya.

Ingat, tetaplah dalam perjalanan di kendaraan itu, biarkan semua tetap berputar, mengalir….apa adanya.

Lepaskan kemelekatan mu pada pemandangan sebelummya yang membuat merenung, kenapa kok perjalanannya gak enak?

Kenapa kamu menilainya? Bukankah perjalanan ini adalah sudah diatur sedemikian rupa seperti nonton film yang seru, bayangkan kalau filmnya tertawa terus….pasti kamu bosan. Atau menangis melulu, atau tegang melulu…capek kan?

Perjalanan akan terus berjalan sesuai rute kendaraan tersebut, seandainya kamu jangan menginginkan apa-apa dalam perjalanan tersebut. Lho kenapa gak boleh menginginkan sesuatu dalam perjalanan tersebut.

Memang kamu bisa menentukan “pemandangan” yang bakal dilalui oleh kendaraan dinasmu itu.

Karena kamu menginginkan sesuatu yang tidak mungkin, maka kamu menderita, juengkel, sakti hati, kecewa, stress, depresi yang menjadi penyakit kehidupan.

Kuncinya cuma satu, jangan menginginkan apa-apa atau meminta rute lain untuk melhat pemandangan lain pada kemudi kendaraan tersebut.

“Karena kita adalah penumpang, yang disuruh jalan-jalan menikmati semua pemandangan dari awal sampai akhir, begitu apa adanya”

Penumpang itu akhirnya menderita sendiri, karena meminta rute yang diinginkannya, dan akhirnya memaksa mogok makan, meminta kepada Pemilik Perjalanan tersebut untuk jalan kehidupan rute lain.

Seorang petani, berkeinginan menjadi raja, pejabat

Seorang guru, berkeinginan jadi pengusaha besar.

Seorang pedagang berkeinginan jadi petugas negara, dan sebagainya.

Karena meminta rute lain, jadilah penderitaan hebat luarbiasa. Hingga menderita sakit kronis tiada kesembuhan.

Karena tidak ada satupun di dunia ini yang bisa membantunya, dan tidak ada daya lagi, maka menyerah deh…

iPasrah deh…. gak mikir apa-apa, gak kepinginan lagi, bahkan malah minta agar Tuhan mencabut nyawanya saja.

Ketika sudah off, zero limit inilah, akhirnya leburlah ego manusianya itu…. terserah Tuhan deh mau dibawa kemana.

Akhirnya kendaraan itupun kembali otomatis diambil alih olehNYA, dan berikutnya pemandangan mulai berubah perlahan, dari satu situasi ke situasi berikutnya. Dan kembali ke rute perjalanannya.

Yang tadinya penyakit tak tersembuhkan, lho kok malah membaik.

Tadinya bangkrut, hutang bejibun, lho muncul pertolongan tak disangka, dan seterusnya.

Tadinya jomblo parah, gelayutan di pohon bambu, tiba-tiba kok ada yang menyukainya….

Banyak manusia yang mendapatkan anugerah, pemandangan yang bikin “sueneng hatinya”, padahal gak menginginkannya, gak menyangka, bahkan gak percaya….kok ketemu pemandangan bagus.

Itulah kuncinya….gak menginginkan apa-apa, gak ngarep apa-apa, terserah yang membawa kendaraan kehidupan saja.

Etape perjalanan kendaraan kehidupan itu awalnya adalah pemandangan gak bagus…

Namun kelak akan ketemu pemandangan yang semuanya bagus bagus, dan ini pun bisa jadi ujian.

Karena saking suenengnya, melekat dengan yang bagus bagus itu, dan perjalananpun terhenti, mandek.

Sudah kaya, namun melekat agar makin kaya, jadilah melakukan segala cara, dan korupsi. Ujungnya penderitaan.

Sungguh siapapun manusia yang melihat pemandangan sangat indah, bagus, maka akan terpesona, dan berhenti untuk photo bersama, sambil sama si selfi, bahkan jadi menetap. Perjalananpun terhenti dengan ujiannya sendiri.

Akhirnya sama lagi rasanya saat dulu melihat pemandangan “kurang bagus”…. kok makin lama gak merasa bahagia, dan malah semakin menderita dengan suasana seperti itu.

Abaikan pemandangan apapun, gak usah dipercaya….gak usah dipercaya semua pemandangan dalam perjalanan itu.

“Semua gak ada apa-apa…..aku disini sini saja, di kendaraan ini”.

Belajarlah mengabaikan apapun pemandangan, mulai ketika dirimu mendapat peristiwa bangkrut, ditipu, dizholimi, dimaki-maki orang dan sebagainya. Gak ada apa-apa, memang peran mereka begitu. Peran gue kan begini….

Abaikan saja, bisa jadi saat itu peranmu adalah peran yang ditipu, dan temen bisnis yang menipu itu kebagian peran penipu. Memang kamu mau berganti peran jadi orang jelek?

Kenapa kamu masih melekat, dan turun dalam kendaraan perjalanan itu. Gak usah bro.

Abaikan saja, gak ada apa, memang begitu…..

Ayo tetap di kendaraan, kasih senyummu yang manis itu, walau lesungnya gak jelas….. Asyik ya si pipit, kalau senyum pasti namanya lesung “pipit”. Biarkan kendaraan itu tetap berjalan, berotasi, seperti bumi, dan semua isi tatasurya tetap berputar.

Kelak dalam perjalanan itu, dirimu akan menemui banyak pemandangan bejibun hingga yang sangat menyenangkan bikin lutut lemes melihatnya saking asyiknya.

Namun semua adalah ilusi, pemandangan……….yang selalu berganti, tidak pernah kekal.

Yang kekal, dan selalu tidak berubah, cobalah kamu pandangi dirimu sendiri. Ya begitu saja.

Jadilah dirimu sendiri, percayai dirimu sendiri yang begitu saja. Gak usah lihat pemandangan diluar, yang bikin kamu jadi dipermainkan pikiran, perasaan dan kejiwaanmu. Abaikan saja….fokus pada dirimu saja. Seperti orang tafakur, meditasi……namun tetap beraktivitas sehari-hari.

Kelak kamu akan tercerahkan, tawar, damai, bahagia tak terukur nilainya.

Kebahagiaan sejati tatkala bisa meredam pikiran, perasaan, emosi, ego, kini tunduk setunduknya.

Ternyata kamu cuma sendirian di dalam kendaraan perjalanan itu. Gak ada apa-apa.

Saat itu kamu akan tersenyum damai, memandang apapun dalam setiap perjalanan, tanpa menilai apa-apa. Karena memang gak ada apa-apa.

Dalam perjalanan ambil bekal secukupnya, harta untuk bekal perjalanan. Rejeki harta terserah dirimu sendiri untuk bekal perjalanan.

Kalau sedikit, ya terus bergerak sehingga kecukupan. Kalau kebanyakan, nanti malah kendaraan terlalu penuh, dan jadi menyulitkan dirimu sendiri.

Sungguh saat itu perjalananmu demikian damai, menatap damai semua pemandangan, memberikan kebaikan dalam setiap perjalanan, melambaikan tangan, menyebar kebaikan. Dan semua pun berlalu.

Tidak ada satupun yang melekat dalam perjalanan, bahkan sang pemikiran, kejiwaan, perasaan, emosi, nafsu, ego, jasad pun sudah tunduk kepada dirimu sendiri. Kamulah kendalinya, khalifahnya, pemimpinnya.

Datang gak membawa apa-apa

Pulangpun tidak menbawa apa-apa

Hanya memberi makna dalam perjalanan

Dan iini pun akan berlalu.

Rahayu

Aku ra po po

Semua gak ada apa apa

mas kris

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

4 Responses to Yuk belajar memaknai hidup….belajar ikhlas dan pasrah pada mauNYA

  1. yunita says:

    Waaaaa pgn ikut banget 🙁

  2. Tommy "acong" says:

    Subhanallah..

  3. riando says:

    Allah hu akbar

  4. rusdi says:

    God is maha good, makin dalam makin zero … muantabbs.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala