The Power of Kepepet: akhirnya rejeki datang juga!!

Salam Sahabat Mahakosmos,

Saya benar-benar meninggalkan bisnis, perusahaan, pekerjaan hanya sekedar untuk membuktikan bahwa rejeki itu sudah diatur Allah Sang Pemilik Kehidupan. Suatu langkah pembuktian yang mempertaruhkan hidup mati keluarga saya, sehingga nyaris saya sendiri makan nasi kadang 2 hari sekali atau 3 hari sekali. Mungkin tak terbayang selama ini naik mobil pribadi, jadi naik angkot. Selama ini menginap di hotel bintang berkelas atas tidak masalah, jadi boro-boro bisa menginap di wisma kelas melati sekalipun.

Pekerjaan utama ditengah kelaparan adalah menunggu kapan saya diantar rejeki oleh Allah. Seperti kisah-kisah klasik dalam agama, yang disajikan makanan dari surga diantar para malaikat. Gitu sih ceritanya.

Pembuktian ini adalah suatu keberanian untuk hijrah menyaksikan Dia itu memang ada dan bekerja untuk semesta, menghidupi, mengatur dan memelihara. Perenungan panjang, pengalaman hidup mati, menyaksikan ada suatu kekuatan yang menghidupi di semesta, menjadikan binatang sedemikian banyak bisa bergerak, mendapat makanan yang tiada mereka sangka, menyaksikan seseorang ketiban rejeki dadakan tidak diduga, menyasikan ada satu kekuatan yang mengatur rejeki.

Perenungan juga kenapa ada orang yang susah sekali rejekinya, sudah banting tulang, bangun pagi sudah berangkat kerja meninggalkan rumah, bahkan sebelum ayam peliharaannya bangun dan kembali ke rumah juga tengah malam, gak ketemu deh sama ayam peliharaannya buat kangen-kangenan. Boro-boro, sama anak istri aja cuma melihat dengkurannya.. Ibadah panjang, do’a sampai mulutnya kering namun kehidupannya menderita. Suatu cerita kebalikan dari kisah keberuntungan rejeki yang dialami mereka-mereka yang selalu ketiban rejeki tak tersangka.

Kisah klasik yang berbeda. Namun apa penyebabnya.

Panjang untuk merenung, sehingga penantian itu pun tiba: sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Saya dibohongi seseorang sehingga habislah uang simpanan. Bener-bener dengkul lemas, tidak ada tabungan, tidak ada pekerjaan, tidak ada hari esok yang cerah.
Situasi genting untuk tetap meyakini Allah itu ada memberikan rejeki atau hanya sekedar dongeng.

Niat untuk hijrah 180 derajat pun tetap saya lanjutkan, melihat menyaksikan seorang teman yang melakoni serupa cukup panjang berbulan-bulan hingga akhirnya ketemu satu rahasia besar dalam rejeki. Dia diangkat menjadi kaya raya, sesuatu tak tersangka. Datang suatu pekerjaan usaha, yang membuat dia jadi kaya raya. Dia melongo, tak menyangka. Wah ayune.

Hingga suatu hari, akhirnya saya benar-benar merasakan sepanjang hidup, bagaimana puasanya orang susah, gak punya uang, gak punya pekerjaan, makan hanya dengan apa yang bisa dimakan, kadang daun singkong saja, kadang buah, kadang makan korma saja untuk berbuka. Dan dapatlah satu pemahaman rejeki. Akhirnya datanglah rejeki itu, ”kucluk kucluk…..” menghampiri. Dalam perenungan panjang ditengah perut keroncongan, saat itu anak istri saya titipkan di rumah mertua, karena saya tidak tega menceritakan ”kegabrukan hidup” kepada mereka, dan biarlah tetap merasakan rejeki berlimpah dari orangtuanya.

Tiba-tiba saya menemukan ada pisang setandan di teras rumah, saya bingung siapa yang menaruh. Padahal pagar rumah dikunci. Saya kira dari malaikat, dari surga nih. Saya senang sekali, penantian panjang akhirnya dikirimkan makanan dari surga seperti kisah agama. (tiga bulan kemudian, saya baru tahu ternyata yang mengirimkan pisang setandan itu adalah teman saya yang kok tumben berkunjung padahal sudah lama sekali. Karena rumah kosong, ya akhirnya naik pagar ditaruhlah pisang itu di teras. Saya pikir malaikat dari surga, gak tahunya malaikat yang berbadan manusia).

Ketika saya mau berbuka, lha datang makanan dari tetangga. Tumben nih, kok bisa-bisanya dikirimi makanan. Dan begitu seterusnya makanan berdatangan dari teman-teman yang datang. Teman-teman yang jarang datang, lha kok bisa datang ya. Siapa yang menggerakkan?
Hingga akhirnya tawaran pekerjaan mengelola usaha, kerja sama, dan lain-lain. Dan juga lahirlah Mahakosmos ini tanggal 3 Juli 2009.

The Power of Kepepet, kekuatan pasrah total menjalani ujian kehidupan sampai kepepet makan daun-daunan yang ada karena gak ada yang bisa dimakan. Kekuatan hijrah tetap menjalani ikhlas, walaupun ujian datang menambah kadar penderitaan.

The Power of Kepepet yang akhirnya ditengah ”trance” pikiran jernih di tempat yang gak ada apa-apanya. Saya ”ngeh” tersadar: benar, semua ada yang menjadikan dan mengatur dengan sebaik-baiknya. Tinggal pertanyaannya, mau gak diatur?
Dan Dia Dzat yang menghidupi apapun, badan ini, jiwa (pikiran) ini, rejeki, pekerjaan, orang-orang berjalan, angin, hujan, gempa, hingga datangnya makanan kepada saya tak tersangka.
”Ngeh” tersadarkan bahwa Dia sudah memberikan rejeki, maha mendatangkan rejeki. Pertanyaannya: kenapa rejeki kok gak sampai??

Rejeki tidak sampai sesungguhnya manusianya sendiri yang menghalangi datangnya rejeki. Kok bisa?

Ya, mereka berdo’a baik, namun tidak menyadari selalu berprasangka jelek.
Berprasangka macem-macem…..
Prasangka rejeki ini cuma datang dari pekerjaannya sebagai pegawai saja.
Prasangka bekerja jadi tukang cendol gak bisa kaya….
Prasangka jadi tukang martabak gak bisa bikin kaya…
Prasangka kalau berbisnis kurang bagus dibandingkan jadi pegawai.
Prasangka jelek sama setiap orang…..dan lain-lain.

Sesungguhnya Dia ada dalam sangkaan kita, itulah yang terjadi. Semua sangkaannya terjadi menjadi suatu peristiwa di kemudian hari. Sayangnya selama ini semua sangkaan yang tidak sadari itu selalu jelek-jelek.

Gara-gara sangkaan itulah, skrenario Dia yang Maha Mendatangkan Rejeki akhirnya terhalang oleh pemikiran kita sendiri.
Rejeki sudah datang, tapi gak ada yang terpegang. Order mau diterima, tapi gak pernah jadi-jadi. Boro-boro, buntutnya aja gak kepegang.

Saya baru “ngeh” satu ayat agama yang menjadi amalan teman saya menjadikan dia kaya raya dalam waktu singkat setelah berbulan-bulan dalam ujian berat.
“Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan”

Sesungguhnya rejeki dan semua keberuntungan itu sudah diatur dan semua berdatangan kepada kita, namun kita sendiri yang menghalanginya. Mendustainya, mengingkarinya, atau dalam bahasa saya: tidak mengizinkan rejeki itu datang.

Allah itu Dzat yang nyata menghidupi kamu juga rejeki yang datang. Dia tidak perlu ibadah kita, sedekah kita, harta kita, Qurban kita, Dia gak perlu apa-apa…lha sudah Maha Kaya. Dia hanya kepingin yang sedang diuji ini ”ngeh” tersadarkan untuk mengenalNya. DIA ada untuk dikenal, dipuji, hanya itu saja. Dan biarkan Dia mengatur kamu, rejeki yang sudah diatur berdatangan itu kamu izinkan diterima.
Rejeki juga mahluk, izinkan dia masuk ke rumah kita, toko kita, bisnis kita, perusahaan kita. Biarkan dia masuk. Kasih Izin.

Jangan ditulis, pakai reklame lagi: ”Rejeki dilarang masuk, tidak saya izinkan”

Inilah hakekat zikir Sirr, mengingat ”ngeh” tersadarkan dengan mekanisme sunatullah yang memang begini kenyatannya. Semua nikmat Allah itu sudah tersedia dan disediakan untuk kita, jangan didustakan, jangan dikau ingkari.

Dan setelah saya tersadarkan menyaksikan itu semua, saya mengucapkan amalan dengan bahasa saya yang saya pahami dengan sangat mendalam:
”Hamba yakin dan bersaksi Ya Allah Engkau Dzat yang menghidupi dan berkuasa sepenuhnya atas hamba, juga atas datangnya rejeki.
Hamba izinkan rejeki itu berdatangan dari segala penjuru tiada henti-hentinya selama hamba masih bernafas………”

Amalan, yang kadang tidak terucap, hanya berupa kesadaran. Tidak ada ucapan. Namun, ”ngeh”. Dilantunkan dengan kesadaran tiap pagi, bahkan setelah larut malam. Berdiri di tengah tahajud.

Dan rejeki itu berdatangan, banyak yang mengantar makanan, uang, pekerjaan, peluang, tinggal saya yang mengatur itu semua dengan bersahaja secukupnya saja. Karena saya tahu, bila terlalu banyak juga bisa bikin ’lupa daratan’. Gak perlu bermegah-megahan, seperti ditulis Al-Qur’an.

Mahakosmos pun lahir dari suatu ketidaksengajaan, no planning, bahkan semua tulisan-tulisan saya yang kadang saya tidak mengerti ”kok bisa ya nulis begini”.
Banyak teman yang mengawali perjalanan saya yang tiba-tiba bikin Mahakosmos dari nol, hingga pengetahuan berkembang sedemikian rupa. Mengetahui saya yang tidak mengetahui teknik-teknik terapi, menjadi paham dengan sendirinya hingga teknik terapi tersulit. Yaitu memprogram otak-pikiran dan alam bawah sadar seseorang dan merubah perilakunya hanya dengan memandang. Memahami suatu tersirat, tersembunyi, dan penyebab permasalahan kehidupan. Kemampuan membaca pikiran, membaca perasaan yang tersembunyi. Hingga teknik-teknik yang saya juga baru tahu, juga dipelajari seorang psikolog, psikiater, hipnoterapi tingkat tinggi, semua teknik terapi kekuatan energi, teknik totok, teknik membaca titik meridian tubuh dari ”mata ketiga”. Sehingga banyak kasus sakit jiwa bisa dipahami untuk menjadi membaik kembali atau penyakit medis yang tidak sembuh-sembuh menjadi membaik.

Semua nikmatNYA benar-benar tercurah. Nikmat Allah mana lagi yang hamba dustakan.
Semuanya….. gara-gara kamu: The Power of Kepepet.

Salam ikhlas, Rahayu
Maskris

”Terapis tanpa sertifikasi”

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

11 Responses to The Power of Kepepet: akhirnya rejeki datang juga!!

  1. debby says:

    lagi pengen baca yang seperti ini, lha ndilala dapat messages dari mahakosmos
    aku membuka koneksi, sehingga mengundang vibrasi yang sama
    sesuai sangkaan

    syukron mas kris

  2. arik says:

    mantabh!suwun artikelnya

  3. Ari Setio says:

    Subhannallah..iya Mba Debby..koq pas ya kondisinya ama saya…Salam Ikhlas Mas Kris..

  4. Saya juga mengalaminya Mas Kris, dan sampai sekarang Alloh masih ngasih rejeki yang banyak buat saya, sampai saya malu sendiri sama Alloh, karena ibadah saya belum sempurna. Tapi memang kuncinya ya kita harus ikhlas. Berapa pun nikmat (rejeki) yang Alloh kasih kita harus mensyukurinya..Karena kata Alloh sendiri dalam Al-Qur’an : “Jika kamu bersyukur atas nikmatKu , maka akan Aku tambahkan nikmat yang lain…”
    Salam Cinta-MGB-Sang Provocatro-The Gelo Ways

  5. zaki says:

    Terimakasih artikelnya, menyejukkan jiwa saya….Salam ikhlas Mas Kris, pingin rasanya ikut training, insya Allah klo ada dekat2 jogja….

  6. Maturnuwun sanget, sangat mencerahkan.
    Sudah rindu banget untuk segera mengikuti Pencerahan terapi THE POWER OF IKHLAS 4-5 Desember nanti. Semoga Allah Ta’ala meridhoi kita semua…

  7. intan says:

    .. seperti kata ustad Yusuf Mansyur … buatlah kondisi kita kepepet .. so kita akan merasa dekat dengan Allah ..tapi koq ya .. tetep moody .. weleh .. belum hilang ni “Mental block”nya ….see u on 25 /26 Desember ya Mas Kris di Salatiga tho …

  8. widya says:

    selama ini tanpa saya sadari telah berprasabngka yang kurang baik ttg rizeki yg saya dpt dr bekerja, sehingga semuanya jd tidak cukup. setelah sy membaca artikel ini, sy jadi sadar, apa yang sy prasangkalah yang membuat slalu tdk cukup. mari berfikir positif.

  9. Suwanto says:

    Luar biasa keajaiban tuhan,,,,,,,,,!!!!!!!! smga bs mnjalani seperti aturanNYA. Berat bener tp mas KRIS,,,,,, ga semudah yg dibayangkan.

  10. bodro says:

    wow law of connection negh…lagi mikir tentang konsep rezeki dan lama tak berkunjung ke web ini..eh energi quanta menghantar pada tulisan ini. Matur nuwun mas kris.. 🙂

  11. Hari M says:

    Subhanallah mas Kris, baru baca sebentar aja saya sdh “ngeh”, tadinya pikiran saya lagi suntuk, banyak masalah yang silih berganti semakin menumpuk, bahkan mau kerjapun “malas” bgt rasanya. Eh Liat2 email di komp ada webnya “Mahakosmos” & tulisan Mas Kris “pas” banget dengan keadaanku sekarang. Dan memang setiap kali aku “kepepet” istilahnya mas atau “Menthok” istilahku selalu aja “Bantuan” dari Allah Yg Maha Kasih apapun keadaannya. Smpai dgn saat aku baca & commentpun Aku yakin ada “Mekanisme” Allah jua yg mengatur, Jazakillah. Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala