Ternyata penyebab sakitnya adalah emosi ketika memberi makan pada anaknya

Salam Sahabat Mahakosmos,

Puji syukur kepada Allah SWT yang masih memberi kenikmatan luarbiasa, dan pembelajaran luarbiasa di mahakosmos dari tidak tahu menjadi tahu. Tahu karena ratusan bahkan ribuan kasus dari pasien. Diajari pasien. Suatu kenikmatan yang tidak bisa diingkari, kenikmatan yang datang sendiri, yang maunya sih….tetap duduk di singgasana bisnis. Saya ikhlas menjalani lakon yang diberikan, lakon yang tidak pernah terencana. Lakon yang berjalan mulus, penuh kenikmatan. Nikmat mana lagi yang bisa saya ingkari. Alhamdulillah. Kecil tapi berisi besar.

Lakon yang pasti ada masa selesainya……

Kebahagiaan materi, sukses seringkali diukur dari jumlah hartanya, apa bisnisnya, bentuk rumahnya, matre oriented. Namun seringkali diluar tampak gemerlap, didalamnya keropos penuh tekanan batin, penyakit pikiran dan penderitaan. Tetapi apa mau dikata, gaya memang nomor satu sejak dari zaman dulu kala. Ini juga salah satu kebohongan yang akhirnya menarik hukum semesta berjalan penuh kebohongan, penuh kepura-puraan.

Sahabat, seringkali kasus penyakit medis urusan pencernaan yang umumnya kambuhan hingga bertahun-tahun bahkan sakit-sakitan sejak kecil adalah sesuatu yang tidak disadari.
Umumnya terjadi karena emosi yang tersimpan, penderitaan yang tersimpan, seperti diatas tadi berusaha tampak gemerlap.

Ketika saya mencari tahu dalam level quantum mengenai penyebab kenapa anak selalu sakit-sakitan bahkan terus hingga dewasa. Ketika berusaha mencari file penyebab dari rekaman emosi yang ada di level quantum tubuhnya. Betapa kagetnya saya, karena penyebabnya adalah dari emosi yang datang bukan dari dirinya, namun emosi dari makanan. Energi jelek makanan.

Dibrowsing lagi, rupanya bukan energi negatif makanan haram.

Ketemulah filenya penyebab makanan itu berenergi negatif, ternyata berasal dari emosi ibunya.

Setelah komunikasi verbal secara psikologi, sang pasien membenarkan bahwa ibunya sejak menikah dan hamil hingga dia melahirkan selalu emosi, menderita, menyimpan kebencian, keputusasaan dengan situasi rumah tangga.

Pantas saja, karakter si anak ini mirip ibunya. Artinya sejak kecil dia selalu mudah tersinggung, emosi meluap tidak terkira yang tidak diketahui asal usulnya. Dan terus terbawa sampai dewasa, penuh emosi meluap sulit terkontrol.

Ternyata karakter emosi ini adalah rekaman emosi sang ibu ketika mengandungnya dulu. Sejujurnya kasus seperti ini banyak sekali terjadi. Banyak yang akhirnya merusak pola pikir sang anak sulit terkontrol. Anak menjadi gangguan pikiran. Emosi mudah meluap. Kurang fokus. Mental kurang stabil. Dan seabreak-abrek pola yang ditanamkan sang ibu ketika mengandung dulu. Ratusan pola emosi.

Dan ternyata penyebab sering sakit-sakitannya si anak pun berawal dari sini.
Ketika sang ibu melahirkan dan membesarkan si anak dengan emosi keputusasaan, penderitaan, kebencian pada sang suami. Luapan emosi ini juga menyebar ke seluruh apa yang dipegangnya. Jadilah anak bayi tak berdosa ini tertular, terserap energi negatif sang ibu.

Dengan luapan emosi sang ibu, apapun aktivitasnya akan mengandung vibrasi energi negatif.

Paling berbahaya adalah ketika luapan emosi ini ketika saat memasak. Maka energi negatif akan tersimpan dalam sel-sel masakan. Dan akhirnya termakanlah oleh si bayi tak berdosa ini. Tersimpan dalam pencernaan, terproses akhirnya tertimbun di sel-sel darahnya.

Banyak sekali ilmuwan telah ujicoba betapa emosi dari perkataan saja bisa merubah molekul air. Hingga uji coba test memasak namun dengan 3 perkataan berbeda. Yang pertama kata bahagia, kedua kata-kata mengacuhkan dan ketiga dengan perkataan negatif. Ternyata masakan cepat basi, dengan percobaan kata-kata negatif. Dan yang mengandung kata-kata positif, gembira, masakan itu stabil masih tetap enak hingga sore hari.

Pantas saja seringkali saya makan makanan bergizi tetapi kok setelah itu perut mules. Baru diketahui ternyata faktor emosi dari pemasak inilah penyebabnya.

Ketika saya makan di warteg di depan sekretariat, biasanya perut asik-asik saja. Namun suatu saat kok sering mules kalau makan disana. Apa ada yang salah?

Usut punya usut, ternyata yang masak lagi ribut dengan pasangannya. Saling memendam emosi. Halah pantas saja……

Bayangkan, sang ibu dengan luapan emosi pada suami, dibiarkan memasak dengan letupan emosi. Bayangkan betapa berbahanya molekul-molekul air masakan jadi berubah, juga makanannya. Dan semuanya berisi luapan emosi negatif. Dan ini termakan oleh sang bayi. Terlebih lagi sang bayi menyusui dari ibunya yang tentu saja molekul air susu telah berubah menjadi negatif.

Pantas saja sang anak sakit-sakitan, dan setelah 30tahun kemudian terus saja sakit-sakitan, pencernaan bermasalah, pankreas, empedu, ginjal semua bermasalah.

Akhirnya kulepas satu persatu file-file emosi yang bersemayam di level quantum tiap sel-sel tubuhnya. Saying Quantum. Tepukan Quantum. Banyak sekali……

Bayangkan berapa tahun si anak tumbuh dengan masakan yang penuh emosi. Berapa hari jumlahnya dikali berapa kali makan sehari.

Dengan kesadaran si bayi yang telah tumbuh dewasa ini untuk melepaskan sebabnya satu persatu, maka kembalilah tereset seperti sediakala. Butuh waktu yang panjang, namun kesadaran untuk melepaskan itu semua menjadikan proses menjadi singkat.

Energi negatif makanan yang meluber di sekujur badannya, yang juga telah membuatnya ilusi berkepanjangan. Ruqyah, terapis spiritual, bekam pun sampai kebingungan, karena tiada kunjung hasil perubahan yang pasti.

Semua gara-gara emosi dalam memasak. Emosi yang disebut bahasa seyemnya adalah “syaithon” yang terkutuk.

Itulah kenapa saya senang sekali memulai sesuatu dengan aku berlindung kepada Allah dari Godaan Syaithon yang terkutuk, untuk memprotek emosi.

Baru kemudian Dengan Nama Allah Pengasih Penyayang ku mulai aktivitas.

Dalam konsep quantum, ketika menyebut nama Allah, itu adalah gelombang nol. Zone Zero. Reset dari nol, tanpa energi. Lalu ditambah vibrasi Pengasih Penyayang…maka lompatan inputan itu di level quantum akan berlipat-lipat kali menghasilkan energi kasih sayang luarbiasa.

Pantas saja, ucapan itu bikin masuk surga.

Berbeda dengan kasus diatas, yang masuk neraka. Karena sakit sejak kecil hingga puluhan tahun akibat ulah emosi.

Sudah saatnya kita selalu bahagia dalam menjalankan aktivitas apapun dengan muatan kasih sayang kepada siapapun. Sehingga muatan energi positif ini memberikan dampak luarbiasa bagi diri dan siapapun yang disentuhnya.

Salam ikhlas. Rahayu
mahakosmos

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

One Response to Ternyata penyebab sakitnya adalah emosi ketika memberi makan pada anaknya

  1. martiti says:

    subhanalloh…astaghfirulloh…
    sungguh membaca artikel di atas jd bisa untuk. bhn koreksi bagi diri sendiri…ada bbrp hal yg sy jg melakukannya kpd anak…astaghfirulloh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala