Memahami keluarbiasaan diri kita dan memaknai hidup di dunia ini

Salam sahabat mahakosmos,

Tidak terasa sudah 5 tahun  sejak saya meninggalkan gemerlapnya dunia bisnis project,  perusahaan  yang menawarkan kemewahan dan harta duniawi pada  tahun 2009.  Tidak membawa seperakpun uang di dompet, bahkan tidak membawa data-data bisnis yang sudah belasan tahun menyertai dan data-data itu bisa saja dibutuhkan oleh lawan bisnis dan menjadi “duit besar”.  Sayang, sudah gak punya “otak” pikiran blasss, he.he.he.he.

Tidak tahu kenapa digerakkan hijrah, meninggalkannya, tanpa ada rasa sedikitpun.  Hingga tidak mengerti apakah bulan depan bisa menghidupi rumah tangga, anak, atau orang yang ditanggung.  Nanti kalau sakit bagaimana biaya medicalnya.  Nanti menyekolahkan anak bagaimana.   Blasss, gak ngerti.  Yang sudah terjadi, dan belum terjadi, bukan urusan saya.

Saya baru menyadari bahwa kemelekatan akan isi duniawi inilah yang menimbulkan bejibun penderitaan puluhan ribuan orang yang saya temui dalam konseling dan pelatihan.  Jadi saya simpulkan, “apapun yang kamu cari di di dunia ini, maka itulah ujian untuk manusia jadi menderita”.

Ketika orang sudah fokus tujuannya pada kekayaan, maka kelak kekayaannnya itu akan menjadi ujiannya.

Ketika fokus mencari pasangan keren, maka ujiannya ada di pasangan itu.

Ketika fokus mencari anak, maka anak itu akan jadi ujiannya.

Ketika fokus pada kekuasaan, maka itulah ujiannya, dan seterusnya.

Bahkan perasaan dan pemikiran pun jadi melekat pada satu obyek pikiran yang dituju, dan ketika itu tidak tercapai, atau kehilangan, maka jadilah penyakit psikologi.  Bahkan banyak yang sakit kejiwaan terganggu gara-gara mencari isi duniawi.

Kita diturunkan karena punya tugas yang belum selesai,  dihidupkan, dimatikan, dihidupkan, dimatikan, dan akhirnya kembali kepada Tuhan.

Betapa luarbiasanya manusia karena semua ada padanya,  ada unsur atom, sel (jasmani), lalu partikel, quark dan energi yang demikian luarbiasa tergerak oleh VIBRASI (getaran) kejiwaan/batin/hati kita.   Semuanya adalah energi duniawi, dan semakin kuat tatkala fokus kepada duniawi.   Olah vibrasi, jiwa yang menggerakkan semua partikel, quark, dan energi untuk mewujudkan impian yang mau dicapai.

Dalam dunia modern, muncullah pemahaman “the secret” yang dipakai di seluruh pemberdayaan seantero dunia dalam mewujudkan impiannya.    Bahkan hingga mereka yang mencari kekayaan, kekuasaan akhirnya meminta bantuan “konsultan” dalam ranah batin/kejiwaan/vibrasi ini agar impiannya tercapai.  Konsultan dibalut dengan “jubah agama atau spiritual” padahal ranahnya berbeda.

Ini adalah ranah metafisika, kekuatan partikel, quark, hingga energi yang tersembunyi dalam tubuh,  karena kita adalah mikrokosmos yang menggerakkan makrokosmos (alam semesta).

Kekuatan besar dalam tubuh kita adalah ego, kesombongan, eksistensi….semakin itu dipelihara, maka kekuatannya semakin membesar untuk urusan duniawi.  Menimbulkan lompatan-lompatan energi, quantum.   Namun ada efeknya….yaitu gak bisa pulang, karena jadi melekat dengan duniawi.  Maka akan terikat, melekat, dan sulit dilepaskan.   Dalam agama dinamakan kesombongan iblis, yang tidak mau kembali kepada Tuhan.

Ada satu lagi, potensi yang luarbiasa dalam diri kita, dengan daya tiada batas, yang baru muncul tatkala pikiran dan kejiwaan melepaskan daya (partikel, quark, dan energi hingga melepas lompatan quantum energi).

Yaitu level kosmik, cahaya, yaitu ruh Tuhan yang bersemayam dalam diri, selalu membimbing dalam kesadaran.  Guru sejati, kesadarannya, nurani.   Sungguh manusia itu mulia, karena ada sepercik cahayaNya ini, nurani.

Jiwa raga manusia yang mampu melepaskan diri dari kemelekatan fokus duniawi dan tidak pernah memalingkan wajahnya dan jiwanya (hatinya) dari Tuhan.  Lalu selalu intropeksi melepas semua daya dalam diri, mematikan semua daya existensinya, maka muncullah kekuatan nurani dalam dirinya.   Mematikan semua daya existnya yang ada hanya daya Tuhan. La haula wala quwwata illa billah.

Dari ratusan artikel  mahakosmos selalu disebutkan kisah nyata, para peserta, pasien konseling, yang sudah kemana-mana berobat, mencari solusi finansial, bisnis, namun ketika melepas daya existensinya, tiba-tiba tak tersangka tak terduga solusi bermunculan dengan sendirinya.  Bahkan sakit kronis yang sudah dinyatakan gak mungkin sembuh, malah sembuh.

Off, dan On.  Kekuatan nurani, ruh Tuhan (spirit) baru muncul tatkala tiap hari, tiap hembusan nafas mematikan daya existensinya.   DIA mengambil alih segala urusan tatkala kita berserah, yaitu mematikan daya existensinya.  Sudah tiada daya untuk menyembuhkan, terapi, daya mikir, daya memelihara tubuhnya, daya menggerakkan rejeki, daya mencukupi keluarganya, daya memelihara rumah tangga, dan milyaran daya yang ciptakan sendiri, karena MERASA BISA…

Sahabat,

Sekedar merenungi, bahwa kita adalah jiwa raga (level partikel, quark, energi)  bersama ruh Tuhan (spirit, level cahaya, nurani yang selalu menyadarkan jiwa).  You are mind, soul, body plus spirit.

Jiwa kita diturunkan ke dunia ini, bersih suci, dalam jiwa yang bersih, gak mikir, yang mikir adalah ruh Tuhan.

Namun seiring dalam kandungan ibu,  dan beliau mikir fokus akan isi duniawi, maka terekamlah, dan berdatanganlah mahluk-mahluk pikiran.  Dan membentuk seperti apa kita, ya dari kumpulan pikiran ibu selama mengandung, dan kemudian terlahir.  Dan setelah terlahir, bibitnya sudah jelas dari pemikiran dalam kandungan itu, dan akhirnya bertambah kembali mahluk-mahluk pemikiran yang membentuk pola pribadinya, karakternya, mempengaruhi kejiwaanya. Dan terbentuklah apa dia di kemudian  hari.

Pikiran tidak pernah mati, bahkan sejak adanya mahluk di dunia ini,  memory pikirannya masih ada di alam semesta, persisnya di alam pikiran.  Dan alam pikiran itu juga terhubung dalam otak manusia.  We are all connected, kita semua terhubung.

Inilah kenapa banyak kerasukan yang mempengaruhi jiwa suci (rahayu, roh ayu) ini karena fokus memikirkan sesuatu.  Ada yang kerasukan hantu, kerasukan duit, kerasukan MLM, kerasukan order, kerasukan SEO dikit-dikit optimasi, dan bejibun lainnya.  Apa yang kamu pikirkan akan menarik “pemikiran” dan semakin banyak menjadi suatu kepribadian.    Dalam penglihatan batin,  wujudnya seperti mahluk, saya namakan mahluk pikiran.

Ketika seseorang mikir dan terobsesi berbisnis kue, maka bisa saja menarik pemikiran di alam pikiran.  Tentu dengan spek tertentu pemikirannya, resonansi pemikiran, dan menarik pikiran sejenis di alam pikiran yang berasal dari orang yang hidup pada abad 1, 2, atau jangan-jangan jaman sebelum masehi.

Inilah yang disebut reinkarnasi pemikiran,  pemikiran orang zaman dulu yang terlahir kembali, tertarik oleh pemikiran seseorang di masa sekarang.

Sekedar renungan, berarti pemikiran orang sekarang adalah copy paste, berasal dari kumpulan pemikiran orang sebelumnya yang memorynya masih ada di alam pikiran.

Atau jangan-jangan, gayamu yang genit itu juga pikiran dari orang sebelumnya yang memiliki “spek karakter sama”, tertarik membentuk dirimu.  Gaya bicara, karakter, skill hingga pengetahuan pun berasal dari “memory” alam pikiran manusia sebelumnya.

Si A, tadinya orang biasa saja, namun karena banyak mikir dengan spek tertentu, tiba-tiba sekarang sudah kerasukan pemikiran dan mempengaruhi  jiwanya, dan perilakunya jadi berubah.  Bisa saja sukses, juga kebalikannya.

Situasi Kamu sekarang ya terbentuk dari pemikiran……biasa mikir apa?

Sehingga banyak kasus psikologi, itupun berasal dari alam pikiran manusia sebelumnya yang terkoneksi.  Logika sainsnya bila kamu kerasukan 1 folder pemikiran manusia sebelumnya, karena terkoneksi…jangan-jangan penyakit jasmaninya juga terbawa (carrier).  Sehingga terapi psikologi ternyata ampuh sekali dan bisa mengatasi gangguan jasmani.   Ya karena pemikiran yang dilepas itu ternyata membawa penyakit.

Atau pikirannya menarik pemikiran manusia sebelumnya di abad 10,  dan ternyata ketemu dengan seseorang yang menarik pikiran dari manusia di abad sama.  Ternyata keduanya bertemu, dan merasa dalam pemikirannya seperti sudah saling mengenal.  Itulah pikiran lama, bertemu.   Repotnya, banyak kasus rumah tangga bermunculan ketika merasa ketemu pasangan lain dan dulu ternyata pikirannya adalah sepasang kekasih.

Sahabat,

Sekedar merenungi, kita yang tadinya jiwa bersih namanya roh ayu (rahayu), plus ruh Tuhan (nurani).  Seiring pertumbuhan, maka menarik semua pemikiran di dunia ini.  Terbentuk kumpulan pemikiran yang membentuk cerita perjalanan kita.

Sesungguhnya hidup ini adalah perjalanan menuju Tuhan atau tempat asal kita yaitu di sisiNya.  Karena kita berasal dari tempat yang sama, nurani.  Sepercik cahayaNya.

Kita turun pertama kali dulu, bersih bersama nurani, namun kemudian ada “memory” kumpulan pikiran bersamanya.

Kita tahu dalam sains,  dunia adalah level atom, sel, partikel, energi (lompatan quantum)…………lalu alam cahaya (nurani), lalu alamNya, tiada apa-apa, zero.

Logikanya bila kita kembali, maka mesti kembali seperti dulu yaitu setidaknya dalam level cahaya (nurani) agar kembali ke sumber nurani,  SOURCE yaitu zero.  Tuhan Sang Esa, Allah SWT.   Namun ternyata jiwa kita selama satu putaran kehidupan duniawi ini,  ada 100 milyar mahluk pikiran, memory tentang duniawi yang melekat.

Logikanya, untuk kembali seperti semula….tentu kemelekatan itu mesti dilepas satu persatu hingga kembali menjadi roh ayu.   Itulah yang dinamakan hisab, pertanggungjawaban ketika kita meninggal.

Semua yang dilakukan, tentu ada memory yang melekat.  Itulah yang dihisab.  Seperti memory komputer, dipresentasikan, maka akan nampak di layar setelah kematian, semua perbuatan tersebut.

Seandainya di file komputer itu, gak ada file apa-apa tentang duniawi, karena “gak mikir” blasss, yang ada dalam pandangan cuma Tuhan, Zat nyata yang meliputi apapun.   Tentu beda kan?  Yang ada cuma Tuhan.  Maka itulah tujuannya, logikanya karena isinya Tuhan, zero… maka kembali ke zero.

Bisa saja dalam pertanggungjawaban setelah kematian,  melepas kemelekatan itu bisa ratusan tahun, bahkan ribuan tahun waktu dunia.  Semakin banyak melekat, fokus impian akan duniawi ya semakin capek deh melepasnya.

Kita gak perlu menunggu mati jasad untuk melakukan itu, bisa dari sekarang.  Melepas kejiwaan/batin, dari semua pemikiran yang melekat akan isi duniawi.    Namanya INTROPEKSI, menyesal telah melekat.  Caranya ya ingat kembali, seperti flash back, mulai dari kapan lahirnya, hari-hari apa yang dipikirkan tentang duniawi….seperti membuka kalendar, tanggal demi tanggal sejak terlahir.

Semua tersusun rapi, kemelekatan itu.

Ternyata ini adalah TERAPI PSIKO luarbiasa, ketika melepas kemelekatan dengan peristiwa yang berlalu, dengan “saya menyesal telah mikir (apa) .berbuat (apa)…. maafkan saya,  saya mengasihiMU Tuhan”

Itu saja membuat cerita hidup berubah lebih baik, karena masa sekarang terbentuk dari masa lalu.  Kalau pemikiran buruk  masa lalu dilepas, tentu masa sekarang pun berubah.

Sungguh ketika kita belajar melepas kemelekatan dengan pikiran duniawi, maka pikiran terhenti, diam.  Dan seperti ada yang berpikir di dalam ini.  Itulah nurani, ruhNYA, spirit yang sebetulnya punya mau, memikirkan jalan hidup yang berkah selamat untuk hambanya si jiwa raga ini.  Orang awam menyebutnya nurani berbicara.

Ternyata semua sudah diatur dalam kebaikanNya, ketika gak mau mendengarkan aturanNya nurani itu, maka ujian musibah, penderitaan seringkali terjadi untuk manusia itu sendiri.  Ikutilah nuranimu, saat sudah melepas kemelekatan dengan duniawi, itulah juru selamat dalam kehidupan.

Kuncinya adalah belajar melepas pemikiran dengan isi duniawi,  berimbas kepada pikiran diam dengan sendirinya, gak mikir dengan sendirinya.  Dan nurani pun muncul mengambil alih,  jelas, dan membahagiakan petunjuknya.  Ternyata semua sudah diatur sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya kemuliaan ditiap peran.

Kita belajar seperti ikan di samudera laut,  yang berbahagia kesana kemari, bebas kemanapun, namun tidak pernah keasinan air laut.  Ikan tidak pernah melekat dengan asinnya air laut.

Kita pun telah belajar di banyak artikel mahakosmos, juga alumni pelatihan, betapa kita menyerah, tiada daya apapun, sudah tidak ada harapan sembuh…kok malah sembuh.  Ketika tiada daya, tidak mampu lagi mencari rejeki,  lha tiba-tiba rejeki datang.  Belajar off, belajar mati, mematikan daya existensi/ego, menyerah total tiada daya lagi, ini adalah inti melepas kemelekatan akan duniawi.

Melepas duniawi,  malah diberi duniawi.  Karena saat melepas, dirimu ada di ZONE Tuhan, dan DIA Maha Besar meliputi duniawi yang cuma setitik.  Artinya dirimu menggenggam duniawi yang cuma setitik.

Ketika belajar mati, melepas kemelekatan itu satu persatu lepas,  dirimu akan menjadi DIRIMU SENDIRI.  Menyadari dengan semua indra nyata bahwa semua yang ada meliputi duniawi yang gak nyata  adalah ZAT TUHAN yang nyata.

Rahayu,

mas kris

Your are mind-body-soul-spirit, alias insan manusia, insan kamil, jiwa raga yang bernurani

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala