Makanya, hati-hati pilih lingkungan…

Salam Sahabat Mahakosmos,

Kita mengenal pemahaman dalam spiritual mengenai level quantum bahwa semua benda yang terlihat maupun tidak terlihat adalah berbahan dasar energi.   Apapun semua bentuk yang terlihat maupun tidak terlihat seperti pemikiran, kebaikan, kejahatan, perasaan, motivasi, semangat, niat, mindset, juga spirit dan Ruh kita, serta energi Illahi.

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa energi itu menular, terkoneksi oleh suatu ikatan emosional senang atau benci.

Ada seorang emosional yang sangat kuat memasuki sebuah lingkungan keluarga, dan ternyata diakui dalam beberapa hari hampir semua anggota keluarga tersebut tertular menjadi emosi.
Sebaliknya ada seorang yang sangat positif dengan energi positifmya  mampu merubah sebuah lingkungan keluarga menjadi jauh lebih baik, merubahnya tanpa disadari.

Sehingga banyak dalam liburan sekolah, anak-anak dimasukkan dalam lingkungan pesantren atau pondokan yang mengajar kebaikan.  Dan sepulang dari liburan tersebut ternyata merubah pola pikir, dan kebiasaan yang positif.   Walaupun banyak juga yang pada akhirnya setelah memasuki bangku sekolah, pola pikir dan kebiasaan tersebut berangsur-angsur lenyap kembali ke keibasaan semula.

Lingkungan  sangat berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir, perasaan, kebiasaan dan karakter siapapun.

Bisa jadi gara-gara selalu ikut komunitas jomblo tebar pesona, senangnya jalan-jalan haha hihi karena menyenangkan, akhirnya banyak anggota komunitas yang malas untuk berumah tangga.  Bisa juga pada akhirnya benar-benar the real jomblo permanen.
Waspadalah…waspadalah.

Bisa jadi karena ikut komunitas senengnya kongkow-kongkow, maka kehidupannya berubah, kuliahnya molor, isinya cuma cengengesan melulu.   Kaget, terkejut deh gak tahunya teman-teman sudah pada berubah jadi executive….lha masih kongkow di kampus.

Suatu lingkungan daerah yang kental pola pikirnya yang nyaman menjadi tentara, maka tanpa disadari kebanyakan warga daerah tersebut menjadi tentara,  demikian juga ketika dominan dari daerah tersebut adalah pegawai negeri maka  menularlah kepada generasi mudanya juga lebih nyaman jadi pegawai negeri. 

Bayangkan bila suatu wilayah memiliki energi negatif karena ada warganya yang (maaf) maksiat.   Maka tanpa disadari akan menular kebiasaan ini kepada yang lain, dan akhirnya menjadi daerah maksiat baik yang terang-terangan maupun tersembunyi.

Itulah kenapa agama menyatakan bila ada perbuatan negatif (maksiat), maka celakalah 40 tetangga kiri kanannya.  Itulah makna Energi itu Menular. 

So, hati-hati memilih lingkungan……

Apapun energi itu menjadi dominan pada satu wilayah, maka energi tersebut akan semakin kental dan bertambah kuat.   Beruntunglah bila itu adalah energi positif, namun celakalah bila yang  menguat itu adalah energi negatif seperti senang tawuran, senang maksiat, senang judi, korupsi dan lain-lain, akhirnya jadilah karakter dan budaya.

Kalau sudah demikian, solusi yang harus dilakukan adalah revolusi energi.    Muncullah gerakan istighotsah, dan berbagai kumpulan komunitas positif yang energinya mampu menghalau energi negative pada wilayah tersebut.
Semakin banyak komunitas positif dibangun di tempat yang sudah memiliki budaya energi negatif (korupsi, maksiat, tawuran), maka akan mengurangi semakin menguatnya energi negatif tersebut menyebar.

Ternyata ada satu energi yang sangat positif yang dapat memadamkan energi negatif dengan sangat cepat, yaitu Energi Love (cinta), selalu memperlakukan siapapun anggota keluarga, persahabatan, lingkungan dengan menebar energi cinta dan tolong menolong.

Ketika seorang anak memendam kecewa dengan orangtuanya dan ngambek, ternyata dengan tepukan kasih sayang penuh cinta tulus meluluhkan semuanya.

Seseorang yang tadinya ingin marah kepada atasannya, namun ketika berhadapan menjadi luluh tiada daya karena diperlakukan dengan penuh kasih oleh atasannya tersebut dan dia semakin kikuk menundukkan kepala ketika diperlakukan dengan baik.

Kampanye Energi Cinta adalah menebarkan cinta tulus, tolong menolong dan perduli dengan siapapun dan apapun dalam interaksi kehidupan sehari-hari, tidak memandang status sosialnya, pendidikan, agama, suku maupun ras.  Karena semua manusia sama kedudukannya di mata Tuhan yang menyelimuti (energi) semesta alam.    Energi inilah yang mampu menerobos kedalam sekat energi negatif yang demikian kuat.  Mendobraknya dan meluluhkannya.

Mari kita mulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat.
Bukankah Tuhan juga Maha Pengasih dan Penyayang kepada siapapun di jagat raya.

Salam Ikhlas dan Cinta tulus,
Mas Kris

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala