Berkorban dong… sudah dapat nikmat demikian banyak….gak mau berkorban!

Salam Sahabat Mahakosmos,

Semesta Alam yang dijadikan oleh Sang Maha Hidup dan Maha Kuasa ini juga memiliki hukum berpasangan, sebab akibat dan saling terkait.
Ada siang…ada malam
Ada laki…ada perempuan
Kepingin pipis di terminal, mesti menyiapkan duit “seceng”
Kepingin dapat istri cakep, mesti pake “mas kawin”
Dapat anak, ditebus dengan potong kambing atau sedekahan.
Kepingin punya anak kandung…..buka celana, buka sarung
Sudah punya keluarga…..ya tanggungjawab dong, jangan ditinggalin aja, ‘nangkring’ saja sih maunya
Kepingin prestasi di sekolah….ya mesti belajar keras
Kepingin ilmu….ya cari dong guru, gak cuma bengong nyari “pangsit”, atau berharap gurunya datang sendiri….
Kepingin sukses bisnisnya…ya jangan pantang menyerah
Kepingin masuk surga, ya ibadah deh yang cakep dan istiqomah
Kepingin sembuh….ya berobat
Mau berobat…ya datangi tempat pengobatan
Mau banyak rejeki…..pancing dengan sedekah

Semua selalu berpasangan, saling terkait, ada sebab akibat, ada pengorbanan usaha didalamnya.

Banyak kasus dalam keajaiban penyembuhan, sama-sama berkorbannya seekor kambing namun beda hasilnya. Ada yang sembuh, ada yang makin parah, kenapa?
Sesungguhnya niat ikhlas berkurban karena Allah Sang Maha Hidup atas suatu hajat, akan memperoleh level quanta “energi” besar.
Seorang yang memiliki harta 50 juta kepingin sembuh lalu berkurban seekor kambing untuk penebusan tentulah beda dengan seorang tukang cendol yang cuma punya uang 1,5 juta.
Sama-sama mengurbankan seekor kambing, namun beda perolehan energi “pahalanya”. Yang memiliki harta hanya sepersekian dari hartanya, namun yang lain memberikan nyaris semua hartanya untuk memohon kesembuhan kepada Allah.
Maka Sang Maha Kuasa semesta alam juga akan memberikan prosentase yang sama sesuai kemampuanNya.

Seorang yang gajinya pas, namun ketika ada yang membutuhkan, segera ikhlas bersedekah sebagian besar gajinya, dan tinggallah tengah bulan jadi “manyun” karena uang gaji sudah nyaris habis. Tiba-tiba mendapat keajaiban memperoleh bonus, undian diluar dugaan.

Banyak yang curhat juga sudah rajin bersedekah sesuai gembar-gembor sedekah bisa bikin kaya. Kok ya rejekinya masih kembang kempis saja, masih remang-remang belum ada perubahan. Ibadah juga gak putus-putusnya. Kenapa?

Ikhlas berkurban adalah laksana tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Bahkan tidak tahu, apakah tangan kanan yang memberi pertolongan ini adalah sedekah. Ketidaktahuan, karena sudah menembus level ikhlas berkurban karena asma Tuhan sudah terpercikkan ke badannya menjadi sang pengasih kepada siapapun.

Ikhlas melakukan kebaikan bukan mencari imbalan, namun sudah menjadi kebiasaan yang mengalir begitu saja. Ikhlas menjalani kehidupan yang dianggap sebagai suatu tanggungjawab untuk memelihara segala pemberian Tuhan.

Ikhlas berkurban seluruh daya upaya memelihara keluarga yang telah dibinanya, anaknya, istri, suami dengan penuh tanggungjawab.
Ikhlas mengorbankan kesenangannya, hanya untuk belajar karena tanggungjawabnya sebagai seorang pelajar.
Ikhlas mengorbankan kesenangan duniawinya untuk Ibadah kepada Tuhan

Pengorbanan yang ikhlas menghasilkan nilai energi yang besar. Makna berkurban adalah bukan dari sudut pandang materi, namun melampaui nominal materi.

Seseorang yang senang makan, lebih suka bersedekah berjuta-juta rupiah daripada mengorbankan kesenangan makan enaknya dibanding berpuasa.

Pengorbanan bukan dilihat dari materi, namun mengorbankan apa yang dia senangi. Itulah yang menghasilkan pahala “energi besar” yang berimbas memantul berbalas sama.

Kepingin keluarga sakinah mawadah warohmah, dapat istri cakep kok ya pelit mengorbankan mas kawin. Malah bertanya ke penghulu, “Pak, punten, berapa standar mas kawin”.
Akhirnya istri dihargai seharga sajadah dan cincin pas banget. Pas satu gram.
Pantesan saja, rumah tangganya jarang mendapat kebahagiaan. Niat awal saat mau menikah dulu tidak bahagia berkurban untuk menebus pemberian Tuhan dengan transaksi minimum.

Kepingin dapat anak sholeh dan kelak jadi kaya sukses….lupa sedekahan atau ditebus dengan pengorbanan dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk perempuan, standard minimum untuk mengingatkan “makan penebusan”. Bahkan Nabi mengajari jauh lebih dari itu untuk tebusannya karena telah diberi anak-anak yang diharapkannya sholeh.
Jangan salahkan deh, karena lupa menebus nikmat diberi anak, hingga kemudian berbalas sama, sang anak jadi kurang ajar, membangkang, dan bahkan tidak ada do’a apapun yang mengiringi sepanjang hidupnya bahkan hingga di alam kubur.

Banyak yang memperoleh keajaiban rejeki ketika dengan ikhlas dan lapang hati memberikan pertolongan.
Bahkan memperoleh keajaiban kesembuhan ketika mau mengorbankan waktunya untuk bangun tengah malam, mengorbankan kesenangan tidurnya.
Bahkan mengorbankan “ayam peliharaan kesayangannya” untuk dijual demi berobat berharap kesembuhan.

Sudah kewajiban setiap insan untuk ikhlas berkurban apapun kepada Sang Kuasa yang memberikan nikmat demikian banyak sebagai suatu tanda syukur. Apapun hasilnya, tetaplah ikhlas.
Akhirnya ikhlas memberi dan ikhlas menerima tanpa pamrih.

Salam Ikhlas,
maskris

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

4 Responses to Berkorban dong… sudah dapat nikmat demikian banyak….gak mau berkorban!

  1. Hamba Alloh says:

    Salam Ihlas Mas Kris, He he he, setelah membaca artikel ini aku jadi ktawa sendiri. Sepertinya cocok sekali dengan yang aku alami yaitu mental block, psimis, dan sering befikir dan berprasangka negatif. Semoga Alloh menyegerakan kebiasaaan buruk ku ini. Amin

  2. Realistis says:

    Ajakannya untuk ikhlas berkorban, tapi ujung-ujungnya pamrih.
    Itu sama saja tidak ikhlas, tapi transaksi dagang yang niatannya disembunyikan sedemikian rupa sehingga tidak muncul ke permukaan, itu namanya menipu diri sendiri.

    Ikhlas itu tidak memikirkan efek apapun dari perbuatannya.
    efek buruk atau baik, istri cantik atau tidak, anak soleh atau anak kurang ajar, badan sehat atau sakit dll.

    Sudah banyak contoh dari riwayat Nabi-Nabi bahwa tidak semua perbuatan baik (Nabi gak ada yang tidak berbuat tidak baik) diganjar dengan sesuatu yang baik.
    Nabi menjadi contoh manusia yang maha ikhlas.
    Nabi Ayub dianugerahi penyakit menjijikkan.
    Nabi Nuh, dianugerahi anak durhaka
    Nabi Luth istrinya yang durhaka.
    Nabi Muhammad, putra laki-laki satu-satunya diambil Allah ketika baru berusia 2 tahun.

    Ikhlas itu artinya tidak mengukur-ukur dan memperbandingkan perbuatan dengan kemungkinan hasil yang akan diterima.
    Ikhlas itu berpikiran positif tentang segala sesuatu terhadap Allah.

    Demikian, semoga menjadi pemikiran bagi Mas Kris dkk.

  3. mas Realistis yang dimuliakan ALLAH..
    ijinkan saya utk berpendapat juga mengenai apa yg mas Realistis tuliskan itu..

    dalam hal tulisan di atas,
    yang dimaksudkan dgn ikhlas adalah,
    ikhlas menjalankan apa yg sudah jadi ketentuan,
    artinya jika menikah ada mas kawinnya, ya dibayarkan dgn ikhlas, jangan mengambil minimum-nya padahal dia mampu membayar lebih (yg penting sudah bayar mahar..!)

    jadi bukannya terbalik, membayar mahar utk dapat isteri cantik..
    analogi ini berlaku juga utk kasus2 lainnya yg ditulis di atas..

    bagi sebagian orang memang menganggap judulnya sangat provokative, tapi intinya adalah tetap ttg keikhlasan dalam menjalani ketentuan yg sudah ditetapkan,
    jadi bukan sesuatu yg bersifat transaksional, kok..

    semoga dari saya yang masih sangat jauh dari pandai dan sempurna ini bisa juga menjadi sedikit bantuan dalam memahami tulisan di atas..

    wassalam..

  4. maskris says:

    Alhamdulillah, ikhlas menerima comment dari sahabat sekalian.
    Pengurbanan untuk sharing mencerahkan satu sama lain tanpa pamrih, apapun hasilnya baik suka maupun duka.
    Sudah merupakan keikhlasan luarbiasa.

    Salam Ikhlas. Rahayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala