Alasan kenapa saya menerima apa adanya, pasangan hidup, anak, saudara, keluarga, dan teman-teman yang berdatangan…….

Sahabat yang tercerahkan,

Tercerahkan karena sudah menyadari bahwa kehidupan ini sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa.   Tiap kejadian gak ada yang ketuker bahkan masa depan.
Sama-sama sekolah, sama-sama pintarnya, sama-sama kerja kerasnya.  Cita-cita sama mau jadi presiden atau pejabat.  Ternyata jalan hidup mengarahkan masing-masing berbeda jalan.  Ada yang jadi karyawan swasta, negeri, pengusaha, ustadz dan sebagainya.   Jalan hidup yang umumnya tidak sesuai cita-citanya.

Bersyukurlah seseorang yang kini di masa senjanya sukses dengan usahanya sehingga berlimpah.   Sekolahnya yang biasa saja, dan kehidupan di masa mudanya demikian sulit luarbiasa.   Sementara temen-temen lain begitu mudahnya sekolah, dapat uang jajan, dan fasilitas.  Dia kebalikannya, semua begitu sulit.

Kenapa Tuhan tidak adil, saya terlahir dari keluarga miskin, orangtua yang ‘maaf” jauh dari kecukupan sehingga saya lontang lantung mengais rejeki sejak kecil.   Sementara temen-temen sebaya kok terlahir dari anak pejabat, uang berlimpah, sekolah mudah, kamana-mana banyak fasilitas.   Pertanyaan ini kerap terlontar dari mereka yang terlahir di jalan, kolong jembatan, dan sudut manapun yang demikian sangat sulitnya.

Kenapa Tuhan tidak adil, dimana sisi yang satu sejak bayi diberikan kemewahan, dan sisi lainnya terlahir diberi “maaf” sulit luarbiasa.   Tambah lagi, paras wajah dan tampilan fisik yang jauh dari “keren”, bahkan ada yang “maaf” tidak sempurna fisiknya.

Kenapa Tuhan tidak adil kok saya jodohnya duda beranak banyak?
Kenapa Tuhan tidak adil kok saya dapat pasangan hidup yang seperti itu, seperti ini?
Kenapa Tuhan tidak adil kok jalan hidup membawa saya seperti ini……dititipkan anak yang “maaf” bandel luarbiasa,  ada yang autis, ada yang istimewa dan sebagainya.

Tuhan yang berkuasa atas diri  manusia dalam ruang zone zero  MICROCOSMIC,  dan berkuasa atas langit dan bumi dalam ruang zone zero MACROCOSMIC, dan berkuasa atas apapun yang meliputinya di zone zero MAHACOSMIC sudah adil demikian adanya.  Maha adil dan berkuasa atas segala sesuatunya.
Semua karena perbuatan manusianya sendiri….

Keyakinan Islam yang saya jalani sekarang sekecil-kecilnya perbuatan akan berbalas sama,  kebaikan atau keburukan.  Hukum Qishos
Sahabat saya yang Budha menyatakannya hukum karma, bahwa hidup ini adalah menjalani karma.

Kita adalah adma, muthmainah, jiwa suci yang bersih dan bercahaya bagian dariNya, seharusnya berada dalam kerajaan Allah, kerajaan Tuhan, Sang Maha Kuasa.  Bahkan ada saudara-saudara kita yang bertugas di tiap lapisan langit, bumi di sudut manapun dalam bentuk jiwa suci bersih yang bercahaya.
Namun kita diturunkan dalam seonggok daging, berwujud manusia dalam rahim manusia yang kelak disebut bapak ibunya.  Dari kehidupan yang demikian indah, surgaNya, kini diturunkan dalam “KETERBATASAN” casingan.      Mudah sakit, menderita, diberi emosi, dan sebagainya.  Maka menangislah sang bayi ketika tahu dan terlahir di dunia.   Jiwa yang suci akhirnya tenggelam kedalam nafsu casingan (jasmani dan hawa nafsu pemikiran)…..penuh penderitaan.

Semua sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, tidak ada yang ketuker masing-masng peran dan jalan hidup.  Bila individunya mengubah jalan ceritanya, maka berantakan semua yang telah diatur.  Menjadi penderitaan berkepanjangan.
Pasrah saja, bersujud kepadaNya, terserah apa mauNya, ceritaNya…..

Seharusnya tiap manusia tahu….. masak lupa, sudah diperjalankan panjang sedemikian rupa
Namun ada juga manusia yang sudah “ngeh” tersadarkan dan tahu telah diperjalankan karena tiba-tiba komputer dirinya terbuka dan sadar terbelalak menyaksikan perjalanan selama ini.

Semua ada memory baik kehidupan lampau (past),  kehidupan yang saat ini dijalani, hari ini, detik ini,   (present), bahkan hingga nanti sampai manusia meninggal (future).   Semua berlapis-lapis, bahkan ada memory dunia (semesta) di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.  Demikian juga manusia ada “memory” yang tersimpan dalam lapisan waktu “virtual” di tubuh ini baik di masa lalu, ya sekarang ini saat ini, dan masa depan nanti.

Seringkali “memory” komputer kehidupan manusia ini bocor,  sehingga dia menyaksikan nyata seperti film hologram,  di masa depannya akan jadi apa, seperti apa, dan sebagainya.  Atau seringkali bocor melalui IMAJINASI yang muncul dengan sendirinya, gak kepikiran.
Dan ternyata,  di kemudian hari mengalami kejadian persis apa yang pernah disaksikan di layar hologram tersebut.  Imajinasi yang muncul dengan sendirinya saat masa kecil,  dan terjadi saat sudah dewasa di kemudian hari.

Atau ketika tafakur dalam kesendirian, keheningan menatap Tuhan semesta alam, tiba-tiba terkaget-kaget karena muncul layar hologram.  Tergambar jelas tempat ini kelak seperti ini, dan bakalan jadi apa.   Seiring waktu, terlupakan, dan terkaget-kaget kembali setelah berapa tahun kemudian ternyata tempat itu kini berubah jadi gambar seperti apa yang pernah “dimunculkan” saat lalu.

Sungguh semua sudah diatur, jalan hidup, peran, rejeki, dan mengalir dengan sendirinya sesuai “memory” kehidupan yang tersimpan dalam lapisan waktu di tubuh ini.  Juga di semesta alam.
Tuhan benar-benar maha berkuasa, mengatur dan memelihara.
Subhanallah duh Gusti….. Seandainya manusia banyak yang tahu, tentu bisa mengintip memory komputer di masa lalu, dan masa depan.

Jadi bisa intropeksi tersadarkan betapa banyak perbuatan negatif sewaktu di surga sana.  Seperti dicontohkan kisah nabi Adam, sehingga harus menjalankan akibat perbuatannya tersebut di masa sekarangnya.

Dan terisak-isak, menangislah sejadi-jadinya, ternyata di surga banyak perbuatan buruk luarbiasa, dan pantas saja kini perannya terlahir di kolong jembatan dengan serba kesulitan.
Bahkan saat di surga dulu, pernah menyakiti sesama, maka pada saat yang sama kini jalan hidupnya selalu saja disakiti banyak orang.
Semua berbalas sama, qishos, sama balasannya.

Sungguh menyadari ini semua, saya menyadari sesadar-sadarnya dengan dada yang kecil namun lapang seluas jagat semesta.
Saya menerima apa adanya kenapa dulu saya diperlakukan negatif…. maka teringatlah semua yang pernah terjadi.
Menerima apa adanya kenapa saya terlahir di keluarga yang seperti ini, pas-pasan, mengais rejeki sejak bocah.
Menerima apa adanya kenapa saya menikah dengan pasangan yang seperti ini dan membuat hidup seperti neraka, dan sebagainya.

Sungguh saya pribadi telah menerima apa adanya “yang sekarang jadi”  istri, anak, keluarga, saudara kandung, kerabat, tetangga, dan semua teman-teman, hingga siapapun yang dipertemukan”.
Sungguh saya kadang masih ingat, saat “memory” di virtual itu bocor dengan sendirinya.  Jadi teringat dulu pernah ketemu di surga dan berbuat apa kepadanya.
Kini saya diperlakukan sama.

Tuhan, Allah SWT, yang meliputi apapun ruang,  sungguh saya menyesal, menyesal, menyesal, menyesal, menyesal, menyesal, menyesal atas perbuatan saya terdahulu hingga di surga dulu.  Saya terima apa adanya sekarang dipasangkan dengan pasangan sekarang, anak yang sekarang, keluarga, kerabat, hubungan pertemanan, bisnis dan apapun sekarang.  Saya terima apa adanya.
Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih wahai Tuhan.  Sangat berterima kasih.
Saya ikhlas menjalani semua takdir yang Engkau telah atur, programkan di “memory” masa depan mulai detik nanti, esok dan seterusnya.
Saya ikhlas menjalaninya.  Siap Tuhan.

Dulu saya masih protes kenapa dapat teman, saudara, istri, anak dan apapun kayak gitu.  Gitu ya gitu deh.
Kini saya damai, bahagia, dan tentram, setelah “tahu”.
Dan habis gelap, maka terbitlah terang.   Kini semuanya berubah jadi penuh kebaikan.
Tiada alasan saya untuk menikah lagi karena merasa gak cocok atau tersakiti, atau selingkuh karena bosen dan mau cari fantasi lain dengan buka franchise cabang dimana-mana atau berbuat negatif yang tidak diperlukan baik kepada pasangan, saudara, anak, teman dan siapapun.

Saya menerima “memory” takdir yang tersimpan di tubuh ini, apa adanya.
Dan yang ada adalah kini kedamaian, kebahagiaan tak terukur, ketenangan yang melampaui tenang itu sendiri.

Alhamdulillah

Salam,
ya gitu deh

“gak perlu dirimu cerai menceraikan dengan keinginanmu sendiri pasanganmu yang sekarang. gak perlu dirimu membalas perbuatan negatif siapapun….

Jalani saja, terima apa adanya, dan kelak kebahagiaan itu muncul dengan sendirinya”
Hidup itu penuh ujian karena dirimu sih turun di casingan badan terbatas dan menderita ini.  Bersyukur saja, terima apa adanya, dan teruslah berbuat kebajikan gak usah mikir apa dan siapa. Mencari harta hanya berujung kepada rusaknya jasad casingan yang dikubur.  Mencari kebajikan, itu tiada massanya dan terus membaikkan dirimu sampai kapanpun.

Jiwamu tiada pernah mati,  biarkan pasrah kembali ke sang Maha Kuasa.

Be Sociable, Share!

Get more stuff like this

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

One Response to Alasan kenapa saya menerima apa adanya, pasangan hidup, anak, saudara, keluarga, dan teman-teman yang berdatangan…….

  1. falin says:

    ass,, sy F mw tny bgaimana jln kwlr jk da klwrga yg slh stu y tdk stju dg pa yg sy inginkn, sdngkn dia tdk mngsih alasan yg tepat. pdahal dr ortu qt mnyetujuinya untk mnjlni hdp brmh tngga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terapi Hati Terapi Ikhlas
MAHAKOSMOS

Dapatkan Informasi terbaru & Artikel secara berkala